MIU Login

Pusat Perpustakaan UIN Malang dorong mutu riset melalui workshop Cambridge Core

Maliki Library – Pusat Perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan Workshop Cambridge Core pada Kamis (10/9) di Ruang Literasi Informasi. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian agenda Pekan Kunjung Perpustakaan 2026 ini diikuti oleh 80 peserta dari civitas akademika UIN Malang maupun peserta umum, dengan menghadirkan Jona Giovani sebagai pemateri untuk mengupas secara menyeluruh teknik pemanfaatan basis data ilmiah tersebut.

Dalam pemaparannya, Jona Giovani mengenalkan ragam produk Cambridge Core yang meliputi e-journal, e-book, dan database product lainnya. Beliau menjelaskan bahwa koleksi buku dalam platform ini secara konsisten meraih penghargaan (award) internasional tiap tahunnya. UIN Malang sendiri telah berlangganan e-journal secara penuh dan mengoleksi sejumlah judul e-book lintas disiplin ilmu seperti Teknik dan bidang lainnya.

Selain materi langganan berbayar, Jona menerangkan konsep Open Access (OA) secara umum. Lebih lanjut, beliau mengenalkan skema flip-in open, yaitu mekanisme khusus di mana judul-judul e-book pilihan yang memiliki dampak besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan riset dunia dialihkan menjadi akses terbuka (Open Access) atas persetujuan penulis.

Terkait etika penggunaan, pemateri menegaskan batasan akses dokumen. “Civitas akademika dilarang keras membagikan dokumen dalam bentuk PDF secara ilegal kepada pihak luar langganan karena melanggar ketentuan lisensi dan merusak metrik statistik penggunaan. Kendati demikian, pengguna di luar UIN Malang tidak perlu khawatir karena platform ini menyediakan banyak e-journal dan e-book berstatus Open Access dengan kualitas yang sama bagusnya serta telah melalui proses seleksi ketat,” tegas Jona.

Di sela-sela pemaparan materi, Ahmad Fairozi dari Program Studi Ekonomi Syariah mengajukan pertanyaan mengenai strategi penelusuran efisien. “Bagaimana cara kita memanfaatkan basis data ini secara efektif untuk menemukan kebaruan penelitian (research gap), agar penelusuran tidak sekadar bergantung pada pencarian kata kunci (keyword) semata?” tanyanya.

Merespons hal tersebut, Kepala Pusat Perpustakaan UIN Malang, Mufid, M.Hum., turut memberikan penjelasan. “Lebih dari 98 persen jurnal di Cambridge Core telah terindeks Scopus, sehingga sangat otentik untuk dijadikan rujukan utama. Kuncinya adalah banyak membaca dan mensintesis artikel berdasarkan kesamaan topik serta metode. Langkah tercepat untuk memetakan research gap adalah dengan mengkaji artikel review (secondary research) atau menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR),” papar Mufid.

Antusiasme peserta berlanjut pada sesi tanya jawab. Mohammad Zidan Irfani dari Magister PAI membuka diskusi dengan menanyakan kemudahan pengolahan data. “Saat menyusun riset dengan metode SLR, apakah fitur di Cambridge Core memungkinkan ekspor data secara massal agar penyortiran literatur menjadi lebih efisien?” tanyanya.

Jona memperagakan penggunaan fitur pada platform secara langsung untuk menjawab pertanyaan tersebut. “Pengguna yang telah login dapat memanfaatkan menu Selected Content, lalu memilih opsi Export Citation untuk mengunduh data sitasi secara kolektif,” terangnya.

Sementara itu, Maulidia dari PIPS menanyakan alternatif metode pemetaan literatur. “Dalam penggunaan metode SLR, apakah ada pendekatan lain yang bisa digunakan untuk menemukan kebaruan penelitian?” tanyanya.

Mufid kembali memberikan tanggapan dengan mengimbau peserta untuk mengikuti program pemantapan literasi. “Perpustakaan menyediakan pelatihan khusus yang membahas metode SLR dalam riset secara mendalam. Silakan ikuti workshop tersebut dengan memantau jadwal resminya di media sosial perpustakaan.” 

Diskusi berkembang saat Jafar Shodik dari Magister PBA menanyakan fleksibilitas langganan dan kriteria kualitas jurnal. “Apakah ada langganan individual? Berapa biayanya jika berlangganan individu, serta apakah berbeda dengan langganan institusi? Bagaimana cara membedakan jurnal dengan indeks yang bagus?” tanyanya.

Menjawab pertanyaan tersebut, Jona menjelaskan skema akses serta indikator reputasi jurnal. “Langganan individual biasanya per jurnal, atau jika butuh artikel tertentu bisa menggunakan skema pay-per-article melalui Paypal atau kartu kredit. Paket langganan per subjek—seperti ekonomi atau medis—biasanya diperuntukkan bagi institusi. Sementara untuk melihat indeks jurnal yang bagus, pengguna dapat mengecek katalog tersendiri atau melihat jurnal yang sudah terindeks Scopus,” terangnya.

Menutupi sesi diskusi, Dian Anesti menanyakan perihal akses akun bagi mahasiswa. “Sebaiknya bagaimana penginformasian akun pribadi untuk mahasiswa, atau lebih disarankan akun yang bisa di-remote?” tanyanya.

Jona merespons dengan memberikan panduan teknis penggunaan jaringan kampus. “Selama menggunakan Wi-Fi kampus, akan muncul keterangan akses dari UIN. Jika berada di luar kampus, pengguna tidak bisa registrasi. Solusinya, akun remote dari email perpustakaan dapat digunakan bersama oleh banyak orang. Pembuatan akun remote pada dasarnya sama dengan akun personal, namun personal login secara mandiri hanya dapat dilakukan saat terhubung dengan Wi-Fi kampus,” jelas Jona.

Melalui penyelengaraan workshop ini, Pusat Perpustakaan UIN Malang berharap civitas akademika dapat mengoptimalkan seluruh fasilitas dan basis data yang telah dilanggan untuk menunjang kebutuhan riset. Pemahaman mengenai teknik penelusuran yang tepat serta kepatuhan pada etika penggunaan basis data ilmiah diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas publikasi riset bereputasi internasional di lingkungan UIN Malang. (Putri Yella Sarasati)

Berita Terkait