MIU Login

Perpustakaan UIN Malang hadirkan kajian QRIS dan UMKM bersama BI Corner

Maliki Library – Transformasi digital tidak hanya mengubah lanskap komunikasi, tetapi juga telah menggeser pola transaksi keuangan masyarakat menuju era nontunai. Menangkap fenomena tersebut, Pusat Perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berkolaborasi dengan BI Corner menyelenggarakan kegiatan Kajian Rutin Intelektual II (KANTIN II) di Ruang Literasi Lantai 1 Pusat Perpustakaan. Agenda yang dilaksanakan pada Jum’at (11/9) ini mengusung tema “Pengembangan UMKM di Era Digital Teknologi: QRIS dan Sistem Pembayaran Digital” dan digelar sebagai bagian dari rangkaian agenda Pekan Kunjung Perpustakaan.

Jalannya acara diawali dengan sambutan pembuka dari Ketua BI Corner, Maulidya Marta Zalsabila. Rangkaian pembukaan kemudian dilanjutkan oleh Kepala Pusat Perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Pembina BI Corner, Mufid, S.Ag., S.S., M.Hum.

Dalam sambutannya, Mufid menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya agenda KANTIN II. Ia menyoroti pentingnya peran BI Corner sebagai sarana edukasi dan literasi keuangan bagi civitas akademika.

“BI Corner memiliki banyak program tentang literasi dan kalian bisa menjadi duta literasi, dan menjadi duta adalah tugas yang mulia, karena membuat orang yang tidak punya arah menjadi punya arah,” ujar Mufid.

Lebih lanjut, Mufid berharap keberadaan forum kajian seperti KANTIN II ini dapat terus hadir secara konsisten untuk membantu meningkatkan kualitas berpikir serta wawasan para mahasiswa.

Memasuki sesi inti, pemateri Siti Nurfalinda mengawali penjelasannya dengan mengenalkan kelembagaan Bank Indonesia. Ia memaparkan bahwa Bank Indonesia merupakan lembaga negara yang bertugas menjaga stabilitas nilai mata uang serta mengawal sistem perputaran uang di Indonesia.

Siti kemudian mengulas dampak luas dari arus digitalisasi terhadap kebiasaan transaksi masyarakat modern, khususnya para pelaku usaha dan konsumen.

“Digitalisasi mengubah banyak hal, bukan hanya soal komunikasi dan teknologi kasar yang berkembang, tapi juga sistem pembayaran, dahulu semua serba cash dan uang fisik, kalau sekarang banyak orang itu jadi cashless,” kata Siti.

Secara khusus, Siti Nurfalinda menyoroti implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai salah satu inovasi pembayaran digital yang dinilai sangat memudahkan. Menurut penjelasannya, kehadiran QRIS berhasil menyederhanakan proses pembayaran sehingga setiap transaksi dapat dilakukan secara lebih praktis.

“Dulu kalau kembalian receh pasti diganti permen, sedangkan permen kalau dikumpul tidak bisa diuangkan,” ujar Siti menggambarkan salah satu kepraktisan transaksi digital dibanding transaksi uang fisik.

Ia juga menjelaskan bahwa saat ini terdapat beragam jenis metode pembayaran berbasis QRIS yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai cara dan kondisi, sehingga memberikan fleksibilitas tinggi bagi para penggunanya.

Pada akhir sesi pemaparan, Siti Nurfalinda membuka ruang diskusi. Dalam sesi tersebut, muncul satu pertanyaan yang dinilai mewakili keresahan banyak masyarakat pengguna QRIS, yakni terkait adanya biaya tambahan atau biaya admin mulai dari Rp500 hingga Rp1.000 dalam transaksi tertentu.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Siti mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melaporkan praktik semacam itu melalui saluran resmi yang telah disediakan.

“Silahkan melaporkan atau mengadukan pada platform pengaduan yang ada di Bank Indonesia,” tegas Siti.

Kegiatan KANTIN II ini berlangsung interaktif dan diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam bagi mahasiswa mengenai peran pembayaran digital dalam mendukung efisiensi serta pengembangan UMKM di Indonesia. (M. Rofiul Achsan)

 

Berita Terkait