Maliki Library – Rangkaian Pekan Kunjung Perpustakaan (PKP) 2026 yang diselenggarakan oleh Pusat Perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menghadirkan ruang diskusi akademik melalui agenda Bedah Buku Dosen bertajuk “Memimpin Bersama, Menguatkan Arah: Model Kepemimpinan Kolektif-Transformatif di Pesantren”. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Literasi Informasi pada Rabu, 9 September 2026, tersebut menghadirkan Dr. Hj. Devi Pramitha, M.Pd.I. sebagai pemateri dan Prof. Dr. H. M. Fahim Tharaba, M.Pd. sebagai pembedah.
Pada pemaparannya, Devi Pramitha mengajak peserta melihat perubahan pola kepemimpinan di lingkungan pesantren, dari kepemimpinan yang bertumpu pada individu menuju kepemimpinan yang dijalankan secara kolektif. Ia menjelaskan bahwa pada model kepemimpinan individual, kebijakan dan arah pesantren sangat bergantung pada sosok kiai. Seiring berkembangnya organisasi, tanggung jawab kemudian mulai didistribusikan sesuai bidang, kemampuan, dan kewenangan masing-masing.
Devi kemudian memberikan gambaran melalui perkembangan dua pesantren besar, yakni Pesantren Tebuireng dan Bahrul Ulum Tambakberas. Pesantren Tebuireng yang berdiri sejak 1899 telah melalui delapan periode kepemimpinan. Pada masa Gus Dur dan Sholah, pengelolaan pesantren berkembang dengan pembagian tanggung jawab kepada empat mudhir yang menangani bidang sekolah, pondok, aset, hingga pengembangan. Pola tersebut menunjukkan adanya penguatan pengelolaan secara bottom up.
Sementara itu, Bahrul Ulum Tambakberas memiliki 35 unit asrama dan 20 unit pendidikan formal dengan jumlah santri kurang lebih 7.000 orang. Kompleksitas tersebut mendorong sistem manajemen kepengasuhan yang lebih terprogram dengan pola pengambilan keputusan middle up.
Lebih lanjut, Devi menjelaskan bahwa gagasan kepemimpinan kolektif-transformatif dalam bukunya dibangun melalui empat teori yang membentuk satu alur pemikiran, yaitu teori transformasi, Leader-Member Exchange, kepemimpinan distributif, dan kepemimpinan kolektif.
Menurutnya, kepemimpinan kolektif bukan sekadar bekerja bersama-sama. Di dalamnya terdapat nilai gotong royong, tanggung jawab bersama, kohesivitas organisasi, homogenitas yang lahir dari heterogenitas, serta kerja sama timbal balik.

“Dalam tradisi pesantren, gagasan ini dikenal sebagai al-jami’yah al-murassalah, dekat dengan nilai gotong royong yang telah lama hidup dalam masyarakat Nusantara,” jelas Devi.
Ia menegaskan bahwa penerapan kepemimpinan kolektif tidak serta-merta menghilangkan kharisma seorang kiai. Sebaliknya, kekuatan spiritual kiai tetap menjadi pusat nilai yang mengikat seluruh unsur organisasi.
Memasuki sesi pembedahan buku, Prof. Dr. H. M. Fahim Tharaba, M.Pd. tidak hanya mengulas isi buku, tetapi juga memberikan sejumlah catatan kritis terhadap gagasan yang dibahas. Ia menyoroti pentingnya kepemimpinan kolektif sebagai upaya untuk menguatkan kemampuan seluruh unsur dalam organisasi.
Fahim menekankan bahwa salah satu seni tertinggi seorang pemimpin adalah kemampuan untuk mendengarkan. Menurutnya, kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memberikan arahan, tetapi juga bagaimana seorang pemimpin mampu menerima, memahami, dan menghargai gagasan dari orang lain.
Ia juga mengaitkan pembahasan kepemimpinan dengan keteladanan Rasulullah. “Akhlak Rasul adalah Al-Qur’an,” ujarnya.

Menurut Fahim, buku Memimpin Bersama, Menguatkan Arah merupakan karya nyata yang tidak berhenti pada gagasan atau wacana semata. Ia menilai pembahasan mengenai kepemimpinan transformasional dalam buku tersebut menjadi salah satu hal yang menarik untuk dikembangkan lebih lanjut.
“Pendidikan yang menghibur dan hiburan yang mendidik,” ungkap Fahim dalam menyampaikan pandangannya terhadap nilai yang dapat diambil dari karya tersebut.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan disampaikan oleh Ulfiana Sari, mahasiswa Magister Ekonomi Syariah, yang menanyakan bagaimana seseorang dapat menjadi pemimpin meskipun bukan berasal dari keluarga kiai atau calon penerus kepemimpinan pesantren.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Devi menegaskan bahwa kepemimpinan tidak semestinya dibatasi oleh latar belakang keluarga. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin dan kemampuan tersebut dapat dipupuk melalui proses serta lingkungan yang mendukung.
“Tidak perlu merasa kecil hati. Siapa pun bisa jadi pemimpin, tidak harus lahir dari keluarga pemimpin. Tidak harus anak pemimpin yang menjadi penerus. Pemimpin harus dipupuk,” jawab Devi.
Pertanyaan berikutnya datang dari M. Zidan Irfani, mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam, mengenai konsep pengaderan kiai yang tumbuh dari lingkungan keluarga jika dibandingkan dengan pengaderan dalam organisasi.
Devi menjelaskan bahwa proses pengaderan kiai dapat berlangsung secara otodidak melalui lingkungan keluarga dengan pemberian tanggung jawab, amanah, serta pembiasaan sopan santun. Sementara dalam organisasi, proses pengaderan dapat dilakukan secara bertahap melalui pemberian amanah, misalnya dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjadi ketua kelas dan menjalankan tanggung jawab secara bergantian.

Sementara itu, Dini Nabila Faiz, mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam, menanyakan arah dari konsep memimpin bersama serta kemungkinan kendala dalam penerapan pola middle up seperti yang diterapkan di Tambakberas.
Devi menjelaskan bahwa arah kepemimpinan pada dasarnya adalah tujuan organisasi hendak dibawa ke mana. Seluruh unsur yang terlibat dalam kepemimpinan kolektif perlu memiliki tujuan yang sama agar dapat bergerak menuju arah yang telah ditentukan.
“Misalnya UIN Malang ingin menjadi world-class university. Satu tujuan, bersama-sama memimpin ke tujuan yang sama,” jelasnya.
Melalui pembahasan yang memadukan teori kepemimpinan, pengalaman pengelolaan pesantren, serta diskusi kritis bersama peserta, Bedah Buku Dosen Memimpin Bersama, Menguatkan Arah menjadi ruang refleksi mengenai pentingnya membangun kepemimpinan yang tidak hanya bertumpu pada satu figur, tetapi mampu mendistribusikan tanggung jawab dan menguatkan kapasitas seluruh unsur organisasi. (Alimatul Listiyah)






