Perpustakaan Pusat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar talkshow bertema “Membangun Islam Moderat Melalui Ma’had Al-Jamiah Al-Aly” pada Senin, 9 September 2024 dalam rangkaian acara pada Pekan Kunjung Perpustakaan 2024. Acara yang berlangsung di Perpustakaan Pusat UIN Malang ini menghadirkan Dr. Ahmad Izzuddin, M.HI, Direktur Ma’had Al-Jamiah Al-Aly, sebagai narasumber. Diskusi dimulai pukul 09.00 hingga 10.30 WIB dan berfokus pada pentingnya membangun sikap moderat dalam kehidupan beragama di lingkungan akademik.
Dr. Ahmad Izzuddin menyampaikan bahwa Pancasila tetap menjadi dasar yang final dan relevan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. “Pancasila sudah final dan relevan sebagai dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, yang disepakati hampir 100% responden,” ujarnya, mengutip survei yang dilakukan terhadap 4.076 mahasiswanya.
Izzuddin menyoroti bahwa masih banyak tantangan dalam membangun toleransi beragama di Indonesia, khususnya di lingkup kampus. “Di Indonesia dan terkhususnya di lingkupnya masih banyak bentuk kurangnya toleransi terhadap pandangan beragama Islam,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya ruang dialog sebagai medium untuk membahas berbagai perspektif dalam Islam. “Kita semua butuh ruang dialog untuk saling berdiskusi tentang Islam berdasarkan cara pandang dari berbagai paham di Indonesia,” tambahnya.
Perpustakaan kampus diharapkan menjadi pusat moderasi beragama, bukan sekadar tempat membaca, tetapi juga sebagai tempat berdialog dan berkumpulnya informasi terkait pemahaman Islam. “Perpustakaan dapat sebagai penopang unit moderasi beragama dengan fungsi perpustakaan sebagai tempat berdialog dan tempat untuk berkumpulnya informasi segala bentuk buku pemahaman Islam**,” katanya.

Izzuddin juga menegaskan beberapa kata kunci dalam moderasi beragama, yaitu Kemanusiaan, Kemaslahatan Umum, Adil, Berimbang, Taat Konstitusi, Komitmen Kebangsaan dan Cinta Tanah Air, Toleransi, Anti Kekerasan, dan Penghormatan Kepada Tradisi.
Dengan membangun ekosistem moderasi beragama di lingkungan akademis, Izzuddin berharap dapat menciptakan relasi sosial keagamaan yang lebih erat dan produktif. “Membangun ekosistem beragama di lingkup akademika adalah menjadikan moderasi beragama sebagai dasar menginisiasi dan membangun relasi sosial keagamaan yang jauh erat dan produktif,” tutupnya.
Acara ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat komitmen kebangsaan dan membangun dialog yang konstruktif di kalangan akademisi dan masyarakat luas.