Perpustakaan dan Komunitas Ngalit selenggarakan lokakarya kajian ekranisasi (alih wahana novel ke film)

Perpustakaan Pusat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Komunitas Ngalit kembali bekerja sama mengadakan acara. Kali ini kami menyelenggarakan lokakarya kajian ekranisasi untuk peserta umum pada tanggal 27 dan 28 November 2019. Narasumber untuk acara ini adalah Dr. Mundi Rahayu, Pakar Kajian Media dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam dua sesi acara, Bu Mundi memberikan dua sub-topik masing-masing dengan tajuk: teori dan metode ekranisasi dan membaca Ronggeng Dukuh Paruk, dari novel ke film. Selain diikuti oleh mahasiswa UIN Maliki Malang, acara ini juga menarik minat banyak peserta dari luar, baik mahasiswa maupun pengajar, seperti dari UB, UM, dan beberapa sekolah menengah di Malang maupun luar Malang.

Di hari pertama, Bu Mundi yang juga merupakan staf pengajar di Fakultas Humaniora ini mengupas materi tentang teori dan metode ekranisasi. Di awal presentasinya, beliau banyak memberikan contoh-contoh film layar lebar, baik produksi dalam dan luar negeri, yang merupakan hasil alih wahana dari karya novel. Beberapa di antaranya adalah Aladdin, Laskar Pelangi, Bumi Manusia, dan tentu saja Ronggeng Dukuh Paruk yang akan dibedah di hari kedua. “Banyak pecinta novel yang terkadang kecewa dengan versi filmnya. Kok, terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita imajinasikan, terutama di episode-episode yang menjadi favorit kita”, ungkap beliau ketika menguraikan tantangan mengangkat novel menjadi sebuah karya film.

Ekranisasi dalam bahasa Inggris disebut dengan screenification. Kata ekran berasal dari bahasa Prancis ecran yang berarti layar. Ada tiga aspek yang melekat dalam ekranisasi menurut Pamusuk Eneste (1991), yaitu penciutan, penambahan, dan perubahan bervariasi. Tiga unsur di atas sangat menentukan tingkat keberhasilan dalam mengalihwahanakan novel ke dalam film. Novel dan film juga memiliki beberapa unsur yang sama, yaitu: cerita, alur, penokohan, latar, suasana, gaya, dan amanat/tema.

Pada hari pertama, pemateri juga menguraikan unsur-unsur penting dalam membuat film serta pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi, mulai dari perencanaan hingga eksekusi. Bu Mundi juga membeberkan bagaimana film kini bisa menjadi bisnis besar di negara-negara tertentu, terutama di US, dalam hal ini diwakili oleh Hollywood. Ada beberapa studio besar yang saat ini menguasai pasar internasional, yaitu Paramount, MGM, 20th Century Fox, United Artists, Warner Bros., dan Columbia Pictures. Bisnis film, sebagaimana yang dikemukakan narasumber, sangat erat hubungannya dengan studio. Konsep studio yang semula berkembang pada awal abad 20 terdiri atas penulis skrip, produser, sutradara, penyunting, juru kamera, dan para aktor. “Seringkali kita sebagai penonton bertanya-tanya mengapa aktor yang dipakai dalam film-film rumah produksi tertentu isinya ya mereka-mereka saja, ya itu karena memag studionya cara bekerjanya demikian”, paparnya. Pada hari kedua, Bu Mundi mengajak peserta untuk menonton film “Ronggeng Dukuh Paruk” dan membahas proses ekranisasinya.